Rabu, 22 September 2010

Penanganan Diare Alternatif Pada Anak

Diare yang disertai berkurangnya cairan tubuh (dehidrasi), batuk disertai sesak napas, gejala ke arah asma meskipun bukan asma, atau infeksi saluran napas bagian bawah, dan demam berdarah, perlu mendapat perawatan khusus. Penyebab diare pada umumnya adalah makanan. Bisa karena keracunan makanan atau karena kuman dalam makanan. Kalau makanannya beracun, gejala utamanya adalah muntah dan baru diikuti diare. Kalau karena kuman pada makanan, biasanya diare dulu baru kemudian muntah.
Diare merupakan keadaan gawat darurat sehingga harus segera ditanggulangi sebelum kondisi dehidrasi terjadi. Pertama-tama dengan memberikan banyak minum. Pemberian susu formula dan jus buah dihentikan sementara. Namun, ASI tetap dilanjutkan.
Bila diare terjadi berulang kali, anak akan kehilangan banyak cairan, bahkan sejumlah mineral penting, seperti sodium, potasium, dan klorida ikut terbuang. Bila berkelanjutan, bisa terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh sehingga timbul dehidrasi. Kondisi dehdarasi inilah yang paling dikhawatirkan meski diare pada dasarnya akan sembuh sendiri.
Tanda-tanda dehidrasi antara lain anak menangis tanpa air mata, mulut dan bibir kering, selalu merasa haus. Air seni keluar sedikit dan berwarna gelap, ada kalanya tidak keluar sama sekali. Juga, mata cekung atau terbenam. Pada bayi tanda dehidrasi bisa dilihat lewat ubun-ubun yang menjadi cekung. Juga anak mengantuk, kulit pucat atau kekenyalan tubuh berkurang, dan bekas cubitan tidak cepat kembali normal.
Untuk mengatasinya, anak perlu diberi cairan sebanyak mungkin. Tidak harus larutan oralit. Bisa berupa teh manis, air gula garam, jus, sup. Air tajin justru cukup efektif bagi bayi untuk mengatasi diare. Juga jauh lebih baik dibandingkan dengan oralit karena tajin mengandung glukosa polimer yang mudah diserap.
Larutan gula garam dibuat dengan perbandingan dua sendok teh gula pasir dan setengah sendok teh garam untuk segelas air putih. Larutan ini, diberikan sedikitnya setengah gelas tiap kali anak muntah atau buang air besar. Bisa juga diberikan satu sendok makan setiap lima menit, sampai anak dapat buang air kecil secara normal.
Air tajin selain cepat dicerna, juga mengandung kadar glukosa cukup tinggi, yang akan mempermudah penyerapan elektrolit. Selain itu dua macam poliglukosa dalam tepung tajin dapat menyebabkan feses lebih padat. Keuntungan lain air tajin adalah adanya kandungan proteinnya, yaitu 7 – 10 %. Sedangkan garam oralit tidak mengandung protein. Penggunaan air tajin sebagai “obat diare” tidak berbahaya untuk bayi sekalipun.

Penanganan DIARE Pada Anak

Penyakit diare atau berak mencret merupakan salah satu penyakit yang sering mengenai bayi dan balita.  Apa itu diare? Apa saja yang sebaiknya dilakukan? Apa sajakah penyebab diare? Dapatkah diare ini dicegah?  Bagaimana penanganan diare yang sebaiknya?
 
 
Apa itu Diare?
 
Jika bayi atau anak anda tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekuensi / jumlah buang air yang menjadi  sering dan keluar dalam konsistensi cair daripada padat, maka itu adalah diare.
 
Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai lebih dari sepuluh kali sehari, dan bayi yang lebih besar akan mempunyai waktu buang air masing-masing, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2 kali seminggu saja.  Dengan kata lain anda harus mengetahui apa yang NORMAL buat bayi atau anak anda dari kebiasaan buang air besar mereka.
 
Penyebab diare :
  • Virus (penyebab diare tersering – dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah lendir, berbau asam.
  • GE ( flu perut) terbanyak karena virus.
  • Bakteri -  Berak2 dengan darah/lendir , sakit perut. ----Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.
  • Parasite(Giardiasis) - Berak darah+/- dan lendir, sakit perut.------perlu antiparasite
  • Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotilka – Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.
  • Alergi susu,- diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut , biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.
  • Infeksi dari bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain ; misalnya infeksi saluran kencing, infeksi telinga, campak dll.

Gejala Diare Akut ( Diare Mendadak) :

Penyebab diare akut ( diare mendadak) tersering adalah karena VIRUS , khas berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah atau lendir, dan berbau asam.  
 
Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung, seperti :

-        Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
-        Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut.  Karena virus ini dapat         bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari. 
-        Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
-        Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
-        Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.

Pengobatan Diare
 
Karena penyebab Diare akut / diare mendadak  tersering adalah Virus,  maka TIDAK ada pengobatan yang dapat menyembuhkan, karena biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari.  Maka pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. 
 
Diare akut dapat  disembuhkan HANYA dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman / cairan yang cukup saja.
 
Yang perlu diingat pengobatan BUKAN memberi obat untuk mengHENTIKAN diare, karena diare sendiri adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan kontaminasi makanan dari usus.  Mencoba menghentikan diare dengan obat seperti menyumbat saluran pipa yang akan keluar dan menyebabkan aliran balik dan akan memperburuk saluran tersebut.  
 
Oleh karena proses diare ini adalah mekanisme pertahanan dari tubuh,  akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa hari - ( 14 hari) dimana diare makin berisi - dari air ( watery) mulai berampas, berkurang frekuensi nya dan sembuh.
 
Yang terpenting pada diare adalah mencegah dan mengatasi gejala dehidrasi.
 
 
Yang terpenting diperhatikan pada kasus diare mendadak ini adalah: 
  • Ingat menHENTIkan diare virus dengan obat bukanlah jalan terbaik.  Tetapi jangan menjadi bingung bila diare tetap ada sampai beberapa hari.  Karena biasanya berlangsung beberapa hari-14 hari. Dan sembuh. Tergantung dari keadaan kesehatan anak dan banyaknya cairan yang masuk.
  • Pengatasan diare adalah dengan memperhatikan adanya tanda-tanda DEHIDRASI
  • Penanganan Yang terbaik adalah tetap memberikan makanan dan minum (ASI) seperti BIASA.  Bila sudah disertai muntah, untuk pengantian cairan anda dapat memberikan pedialyte ( oralit unutk anak2 dengan beberapa rasa).  Kurangi makanan yang mengandung terlalu banyak GULA.  Ingat memang tidak mudah memberikan anak cairan yang agak terasa asin ini, bahkan beberapa anak akan menolaknya.  Tapi bersabarlah dan tetap berusaha mencari jalan supaya anak dapat meminum cairan ini.
  • Dan yang paling terpenting  adalah  Membuat anak kembali kemakanan padatnya (  dan / atau susu formulanya/ASI) karena ini adalah yang TERBAIK untuk mengobati diarenya.  Karena sel2 usus yang dirusak oleh virus memerlukan NUTRISI untuk pembentukan kembali.   Penelitian menyatakan bahwa pemberian makanan  seperti BIASAnya akan memperpendek masa waktu gejala dari diare ini.
 
Pencegahan Diare:

-         Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
-        Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk  pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
-        Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan / serangga , maka menjaga kebersihan dengan menjadikan kebiasaan mencuci tangan untuk seluruh anggota keluarga. Cucilah tangan sebelum makan atau menyediakan makanan  untuk sikecil.
-        Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
 
Hubungi dokter anda, bila:
  • Diare disertai Darah -----perlu pengobatan spesifik dengan antibiotika.
  • Adanya tanda-tanda DEHIDRASI ( tidak ada air mata ketika menangis, kencing berkurang atau tidak ada kencing dalam 6-8 jam, mulut kering)
  • Adanya panas tinggi (.38.5C) yang tidak turun dalam 2 hari.
  • Muntah terus menerus - tidak dapat masuk makanan / asi .
  • Adanya sakit perut - kolik ----pada bayi akan menangis kuat dan biasanya menekuk kaki, keringatan dan gelisah

Selasa, 21 September 2010

Program Kesehatan Dari WHO

PROGRAM KESEHATAN ANAK DAN REMAJA 1

Pokok Persoalan dan Tantangan:

Di Indonesia, kesehatan dan jasa-jasa lainnya secara umum semakin lama mulai menanggapi kebutuhan-kebutuhan dan permintaan dari kebanyakan remaja. Sejumlah projek dan program yang didukung oleh pemerintah dengan atau tanpa bantuan donatur telah ada selama beberapa waktu, namun kebanyakan dari mereka hanya berfokus pada sejumlah isu-isu yang terbatas saja yang berhubungan dengan remaja dan tidak pada kebutuhan mereka secara keseluruhan. Fokus projek untuk tahun 2004-2005 adalah untuk mendukung pengembangan lebih lanjut dari rencana pembangunan remaja nasional dan daerah dan pelaksanaannya, termasuk kebutuhan koordinasi antara para mitra, akses dan mutu dari jasa kesehatan yang ramah remaja dalam konteks pendekatan yang lebih "ramah publik" dan akses bagi remaja ke informasi yang dapat diandalkan dan relevan yang mana remaja dapat mendasarkan keputusannya.
Sasaran:
  • Menyusun pedoman perencanaan dan teknis, terutama bagi tingkat daerah, untuk memperbaiki kesehatan remaja berdasarkan Rencana Kesehatan Remaja Nasional.

PROGRAM KESEHATAN ANAK DAN REMAJA 2

Pokok Persoalan dan Tantangan:

Indonesia masih memiliki angka kematian bayi dan balita yang cukup tinggi dengan angka yang sangat tinggi di sejumlah daerah. Masalah ditemukan dalam periode neonatal dan dampak dari penyakit menular, terutama pneumonia, malaria dan diare, ditambah dengan masalah gizi mengakibatkan lebih dari 80% kematian anak. Perawatan Penyakit Anak yang Terpadu (IMCI), yang diperkenalkan oleh WHO di tahun 1995, sedang diadopsi dan digunakan oleh banyak daerah dan propinsi. Kebanyakan pedoman teknis yang dibutuhkan untuk IMCI termasuk pedoman perencanaan, sedang dikembangkan dan digunakan meskipun sebagian perlu diperbaiki terutama yang berhubungan dengan kesehatan anak baru lahir.
Diperlukan penggabungan dari pendekatan IMCI kini yang terbatas dengan kebutuhan keseluruhan dari semua anak-anak (sakit dan sehat). Diperlukan juga untuk mencari cara-cara untuk mengurangi angka kematian bayi dan anak nasional dengan menargetkan daerah-daerah dimana angka ini paling tinggi dan dengan menargetkan kematian bayi bersama dengan program kesehatan lainnya seperti kesehatan ibu.
Fokus dari rencana kerja tahun 2004-2005 akan menjadi tantangan untuk mengembangkan strategi daerah keseluruhan untuk kesehatan anak sesuai dengan kebijakan kesehatan anak nasional. Pelaksanaan dari intervensi kesehatan anak yang luas dan terpadu, perbaikan alat-alat yang ada dan pengembangan alat-alat untuk membantu mengubah fokus pada anak yang sakit ke kesehatan keseluruhan dari anak.
Ini akan dicapai dengan mengikuti dasar-dasar dari pendekatan IMCI (peranan dari tingkat keluarga/masyarakat, meningkatkan ketrampilan pekerja kesehatan dan sistem kesehatan yang dibutuhkan untuk kesehatan anak) termasuk isu penting akan gizi, terutama pemberian ASI, sampai dengan pasal-pasal yang relevan dari Convention of Rights of the Child (CRC/ Konvensi Hak-Hak Anak). Selain itu, projek ini juga akan berupaya untuk memetakan dan membantu daerah-daerah dimana intervensi kesehatan anak memiliki dampak yang paling besar pada kematian anak.
Sasaran:
  • Pendekatan yang lebih luas terhadap kesehatan anak sesuai dengan CRC, terutama pada tingkat daerah, termasuk ketiga komponen dari IMCI, periode neonatal dan isu-isu gizi seperti pemberian ASI. Sasaran ini, meskipun dibawah Sasaran Global Kesehatan Anak dan Remaja 3.1.3, juga akan berkontribusi secara besar pada Sasaran Global Kesehatan Anak dan Remaja 3.1.1(CRC), 3.1.4 (kesehatan bayi) dan NUT 4.2.4 (kurang gizi/ gizi).

PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN REPRODUKSI

Pokok Persoalan dan Tantangan:

WHO memperkirakan kesehatan reproduksi yang buruk berjumlah 33% dari jumlah total beban penyakit pada wanita dibandingkan dengan 12,3% pada pria pada usia yang sama. Setiap tahunnya sekitar 4.500.000 wanita melahirkan di Indonesia dan sekitar 15.000 mengalami komplikasi yang menyebabkan kematian. Jumlah kematian bayi dapat diperkirakan sekitar 120.000. Dari riset yang berbeda-beda dilaporkan bahwa kurang gizi dan anemia, fertilitas dan kehamilan remaja dengan risiko-risiko yang berhubungan, meningkatnya insiden penyakit yang menular melalui hubungan seks dan HIV/AIDS, malaria dalam kehamilan dan komplikasi aborsi adalah isu-isu yang patut dipelajari lebih lanjut untuk lebih dimengerti implikasinya dan kontribusinya terhadap tingginya AKI dan AKB di Indonesia.
Di beberapa propinsi ( seperti Maluku Utara, Timor Barat, Sumatera Barat), insiden malaria dalam kehamilan dan malaria bawaan sangat tinggi dan ada kebutuhan yang mendesak untuk menyuarakan kebijakan dan rencana pembangunan.
Dengan jumlah tinggi SB yang dilaporkan di beberapa propinsi seperti di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur maka harus diketahui informasi lebih banyak lagi tentang kemungkinan penyebab IUD, syphilis adalah salah satunya dan kebijakan yang berhubungan dengan penyakit yang menular melalui hubungan seks/HIV harus menjadi langkah berikutnya.
Rendahnya angka kelahiran yang dibantu oleh personel yang terampil adalah salah satu tantangan dari sistem pelayanan ibu dan bayi yang telah meletakkan ribuan bidan di desa-desa di Indonesia. Untuk mengerti apa yang menghalangi wanita dari jangkauan personel yang terampil memerlukan penyelidikan yang tepat agar dapat menyelesaikan masalah dari akarnya.
Langkah pertama untuk mencapai keikutsertaan politik adalah untuk meyakinkan para pembuat kebijakan dengan data yang jelas bahwa tindakan yang tepat harus diambil.
Sasaran:
  • Dukungan teknis yang disediakan untuk DepKes untuk pengembangan kebijakan dan rencana untuk mencegah malaria dalam kehamilan dan malaria bawaan, penularan vertikal HIV dan syphilis dalam kehamilan dan untuk membentuk beberapa riset prioritas dalam wilayah MPS dan dalam menerapkan standar yang berdasarkan bukti dan kebijakan untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi.

PROGRAM PENINGKATAN KEHAMILAN YANG LEBIH SEHAT
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Peningkatan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia adalah salah satu komitmen DepKes melalui penerapan Rencana Pengurangan Angka Kematian dan Kesakitan Ibu dan Bayi. Setelah Indonesia telah membuat investasi yang penting dalam pembangunan prasarana yang mendasar dan sumber daya manusia untuk penghantaran Pelayanan Kesehatan Utama, indikator-indikatornya belum memperlihatkan hasil positif yang diharapkan. Meskipun adanya kemajuan di antara indikator-indikator sosial ekonomi, Angka Kematian Ibu dan Bayi masih tinggi dengan perkiraan sekitar 334 kematian per 100.000 kelahiran yang hidup - Metode Sisterhood 1997 - dan Angka Kematian Bayi adalah 25/1000.
Indikator yang menunjukkan masalah yang harus dihadapi: meskipun kunjungan antenatal yang pertama menjangkau 90% dari ibu hamil, hanya 60% kelahiran dilakukan oleh personel yang terampil. Hingga kini, penerimaan, akses dan penggunaan perawatan darurat yang dasar dan lengkap bergantung pada jangkauan ekonomi, perilaku, sosial, budaya dan kemampuan dan pengetahuan dari wanita dan pria untuk memutuskan jika dan dimana untuk mencari pelayanan. Penyebab ini dapat berasal dari berbagai batasan finansiil sampai dengan kurangnya kepastian dalam pelayanan yang memperlihatkan kebutuhan akan perbaikan yang besar karena referensi waktu dalam situasi darurat masih menjadi isu di banyak daerah, perawatan perinatal tidak menanggapi persyaratan kualitas dan masih rendahnya pengertian akan pentingnya persiapan kelahiran: situasi yang meningkatkan risiko yang berhubungan dengan kematian dan kesakitan ibu dan perinatal.
Pengalaman dari kemungkinan dan kesinambungan dari pengawasan yang teratur, bertumbuh dan mendukung dan sampai tingkat pelayanan yang berbeda-beda telah memperlihatkan penerapan yang sulit dan dengan hasil yang buruk, atau tidak ada hasilnya. Pengawasan adalah kegiatan yang mahal, ini memerlukan orang-orang yang terlatih dengan baik dan penuh pengabdian, ini harus bersifat teratur, ini harus memberikan tanggapan, ini harus menghasilkan sesuatu dan tindakan yang diharapkan untuk diambil oleh kedua belah pihak pengawas dan diawasi. Pendekatan-pendekatan yang berbeda telah dicoba untuk memperbaiki pengelolaan dan kualitas perawatan klinis; salah satunya menekankan kapasitas dari personel kesehatan untuk belajar dari kesalahan dan keterbatasannya. Dengan menggunakan pengalaman yang diperoleh dari negara-negara lain dan untuk meningkatkan pengertian setempat dan penggunaan yang tepat dari audit AKI dan AKB ada kebutuhan untuk tindak lanjut yang lebih baik dari penggunaannya. Penerapannya yang tepat adalah langkah pertama bagi staf kesehatan untuk menjadi aktor dan bertanggung jawab dari perbaikannya sendiri dan untuk menyokong dan memberikan anjuran ke pengelola untuk perubahan-perubahan yang akan memperbaiki pelayanan ke klien.
Konsep perbaikan yang sama dari pelayanan melalui pengawasan dan evaluasi diri sendiri dan tim tetap berada di belakang pendukung dari penyelenggaraan "Sistem Kinerja Klinis dan Pengelolaan", sebagai alat yang perlu diperbaiki dan ditetapkan kembali jika ingin diperkenalkan ke dalam skala yang lebih besar di propinsi dan daerah yang lain dan dalam pelatihan pra-pelayanan.
Kebijakan Nasional menyatakan bahwa: semua kelahiran harus dibantu oleh staf kesehatan yang terlatih. Sedangkan selama periode transisi kemitraan antara TBA dan bidan desa sangat dianjurkan. Setelah dikeluarkannya Permenkes no. 900 otoritas hukum dari seorang bidan dalam membantu kelahiran yang komplikasi menjadi lebih luas dan untuk tahun 2010 semua bidan desa harus dilengkapi dan dilatih untuk membantu kelahiran yang komplikasi dan harus mampu untuk melakukan resusitasi dan merawat bayi yang baru lahir dengan tepat. Banyaknya seminar dalam pelayanan yang diselenggarakan dan yang sedang berjalan di dalam negeri nampaknya tidak ada dampak pada kualitas perawatan obstetrik sampai kini dan pastinya tidak memperlihatkan kontribusi menuju penurunan AKI dan AKB. Untuk berkontribusi secara bermakna dalam perbaikan kualitas pelayanan yang berkelanjutan dan berkesinambungan, suatu keputusan yang penting harus dibuat: intervensi yang jangka panjang, permanen dan terkoordinasi harus diprioritaskan untuk mencapai perbaikan yang lebih baik dan tahan lama di dalam kualitas pelayanan yang ditawarkan kepada ibu hamil dan bayi mereka. Keputusan ini tidak menjadi mudah karena beberapa alasan, namun perbaikan dari pelatihan pra-pelayanan telah memperlihatkan di banyak negara untuk menjadi opsi yang benar. Suatu pelatihan pra-pelayanan yang baik kualitasnya dapat diperoleh hanya dengan mengikuti langkah-langkah yang tepat yang dimulai dengan pengembangan koordinasi yang dekat di antara departemen-departemen yang berbeda yang bertanggung jawab akan pendidikan staf Kesehatan Ibu dan Anak.
Hasil yang positif akan keluar dari intervensi yang berbeda-beda, kurikulum yang diperbaharui dan disusun untuk memenuhi kebutuhan negeri, deontologis yang serius, pelatihan teori dan praktik bagi guru-guru bidan, pelatihan teori dan praktik bagi murid-murid jurusan kebidanan, kriteria pemilihan yang seleksi untuk diterima di Sekolah. Sekolah Kebidanan harus memiliki standar kelembagaan sekolah, tempat pelatihan harus menjadi tempat dimana beban pekerjaan cukup dan perawatan dengan kualitas terbaik dapat diperlihatkan dan diajarkan. Tanggung jawab dari para pembuat kebijakan dan para ahli teknis adalah besar, yaitu mengambil keputusan yang benar adalah tantangan yang besar dan karena model standar harus disusun kembali, beberapa lembaga pemerintah harus didukung untuk memulai dan menerapkan model tersebut di dalam kurun waktu dua tahun yang akan datang. Sekolah Kebidanan yang sekarang ada berjumlah 117 (46 milik DepKes, 58 swasta, 12 milik pemerintah setempat, 1 milik Angkatan Darat) adalah tugas besar yang harus diperhatikan dan diawasi kualitasnya dengan tepat, pastinya dengan sekolah baru yang harus diakreditasi, dengan ini intervensi suara dalam bidang ini adalah harus.
Sasaran:
  • Membantu DepKes untuk menyediakan dan untuk memperkuat kapasitas kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi di tingkat pusat, propinsi dan daerah, dalam pendidikan kebidanan pra-pelayanan dan memperkuat koordinasi di dalam organisasi professional DepKEs dan mitranya untuk perencanaan MPS, menerapkan pengawasan dan evaluasi.

PROGRAM HIV/AIDS
Pokok Persoalan dan Tantangan:
Seperti yang telah diidentifikasikan di dalam kerangka kerja strategis WHO SEAR, meskipun dengan upaya-upaya yang sedang berjalan, ini masih mengalami banyak tantangan. Ini termasuk, disamping yang lainnya, meningkatnya intervensi pencegahan yang berhasil, meningkatkan kesadaran akan HIV/AIDS dalam masyarakat, mengatasi beberapa rintangan terbesar yang menghalangi tanggapan yang efektif seperti penyangkalan, menyalahkan, kepuasan dan aib, dan menyediakan jasa konseling dan tes dengan sukarela, dan juga perawatan dan bantuan bagi mereka yang sudah terinfeksi.
Sasaran:
  • Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan secara seksual dari HIV dengan meningkatkan pencegahan dan perawatan dari penyakit yang menular melalui hubungan seksual.
  • Menyediakan dukungan teknis untuk pencegahan penularan HIV melalui darah dengan mencegah HIV di antara para pengguna jarum suntik narkoba; dan menjamin praktik penyuntikan yang aman di lingkungan pelayanan kesehatan (termasuk perlindungan bagi pekerja kesehatan).
  • Menyediakan dukungan teknis untuk memperkuat perawatan dan bantuan yang lengkap termasuk VCT; perawatan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan HIV/AIDS; dan memperbaiki akses terhadap ART.